Kanker Serviks Renggut Pembunuh No 1 Perempuan Indonesia


WORLD Health Organization (WHO) mencatat penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker penyebab kematian pada perempuan di dunia.

Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks. “Sekitar 8.000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian,” ujar Ketua Umum Fatayat NU Ida Fauziah dalam keteranganya kepada Okezone di Jakarta, Minggu (13/5/2012).

Menurut data WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks tertinggi di dunia. Musababnya, kanker serviks muncul seperti musuh dalam selimut. Sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut.

Ida menjelaskan, kanker serviks disebabkan oleh virus Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe, sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan paling fatal ialah virus HPV tipe 16 dan 18.

Penularan virus HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun secara manual ke genital.

Karena itu, penggunaan kondom saat melakukan hubungan intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan virus HPV. Infeksi menetap akan menyebabkan pertumbuhan sel abnormal yang akhirnya dapat mengarah pada perkembangan kanker. Perkembangan ini memakan waktu antara 5-20 tahun, mulai dari tahap infeksi, lesi prakanker hingga positif menjadi kanker serviks.

Guna menekan korban kanker serviks, maka perlu digalakkan langkah deteksi dini. Sebab, biaya pengobatan kanker serviks terbilang mahal. Pengobatan dan terapi pra-kanker/kanker leher rahim (meliputi pembedahan/pengangkatan rahim, radioterapi, kemoterapi, kolposkopi, dan biopsi) membutuhkan biaya sekitar Rp 60 juta.

Deteksi dini bisa dilakukan dengan cara pap smear. Namun itu bukan satu-satunya cara. Ada pula jenis pemeriksaan dengan menggunakan asam asetat (cuka). Menggunakan asam asetat cuka adalah yang relatif lebih mudah dan lebih murah dilakukan. Kanker leher rahim dapat dideteksi dini dengan pap smear atau IVA (inspeksi visual dengan asam asetat) secara teratur dengan biaya sekitar Rp50 ribu hingga Rp200 ribu.

“Oleh karena itu, sebagai bentuk kontribusi Fatayat NU terhadap kesehatan bangsa, dan kesehatan perempuan terutama, dalam rangka Harlah ini melakukan pemeriksaan IVA untuk 1.200 perempuan di DKI dan sekitarnya,” ujar Ida.

Dalam pelaksanaannya, PP Fatayat NU melibatkan Persatuan Dokter Kandungan Indonesia yang didukung Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, serta pengurus wilayah Fatayat NU DKI. (tty)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar